Where have you been, Puspita?

Sunday, July 31, 2011

Beberapa waktu lalu saya sempat pergi ke kampus untuk menyerahkan beberapa berkas desain kepada teman saya. Sesampainya di selasar kampus, ada teman saya yang bertanya, "eh, masi idup lo?"
Teman saya yang nyeletuk ini memang aktif di kampus. Yang saya maksud aktif di kampus, ya benar-benar aktif di kampus. Dia anggota BEM UI, dan sedang mengambil semester pendek (kalau tidak salah) untuk liburan kali ini. Well, sudah sering sekali teman yang bertanya kemana saja kepada saya. Namun setelah mendengar celetukan tadi, rasanya perlu saya share apa saja yang sudah saya lakukan untuk liburan semester ini.

BERANI Gowes, 15 Mei 2011

Deretan sepeda
Meski belum sepenuhnya liburan (kalau tidak salah tanggal 17 itu UAS Fakultas saya), saya mengikuti rangkaian launching acara BERANI (Berbagi Energi untuk Anak Negeri) dengan bersepeda dari Kemang - Monas. Lelah? Tentu saja. Namun apa artinya lelah karena saya ikut terlibat dalam persiapan acara ini. Acara ini merupakan kampanye Greenpeace untuk isu Iklim dan Energi. Bahwa baru 60 persen saja masyarakat Indonesia yang baru mendapat pasokan listrik sehingga kita perlu berbagi energi - energi bersih tentunya. 
Dengan rangkaian ini kami ingin menunjukkan pada pemerintah bahwa Indonesia memiliki potensi sinar surya, geothermal, mikrohidro, gelombang laut, dan angin yang baru dimanfaatkan sebesar 4,4 persen saja sebagai sumber energi.

Insight : meski hanya hal kecil, yaitu bersepeda, selanjutnya acara ini mendapat porsi media yang cukup besar dan kemudian akhir-akhir ini PLN telah mengeluarkan janji pembangunan 124 PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) di 100 pulau Indonesia. See? Siapa bilang anak muda tidak bisa mendorong pemerintah melakukan sesuatu?


HTW @Pulau Pramuka, 4-5 Juni 2011
Sejernih ini? Ya :)
Saya pergi ke pulau ini dalam rangka acara Heal The World GCUI. Sebagai pembuka liburan, saya puas bisa datang ke ibukota Kepulauan Seribu ini. Saya berkumpul di halte UI dengan mengantuk dan sampai sana lebih cepat dari mayoritas panitia. Saya cuma kenal beberapa anak GCUI, sehubungan posisi saya hanya anggota di komunitas ini. Perjalanan terasa begitu jauh, kapal berjalan begitu lambat. 3 jam di kapal membuat saya migrain, meski tidak sampai mual dan muntah. 

Namun apa yang saya rasakan semua terbayar oleh pemandangan yang sejak turun dari kapal sudah membuat saya bertanya, "masih ada ya laut jernih di sekitar Jakarta?" (Kepulauan Seribu masih berada di provinsi Jakarta Utara). Saya baru mengunjungi Bali pada bulan Maret dan menurut saya Bali kalah dengan tempat ini dilihat dari pantainya. Tempat ini begitu asli, begitu sepi. Namun jelas, Bali kaya akan budaya terutama kecak yang saya tonton di Uluwatu.
never wanna goin back
Saya dan teman kelompok
Siang itu langsung dilanjutkan dengan makan, membagi kelompok, istirahat, menanam terumbu karang, dan snorkeling. Rasanya saya tidak mau keluar dari laut, sumpah. Kemudian dilanjutkan makan malam dengan bakar-bakar apa yang bisa dibakar haha. Esok paginya, kami menanam mangrove dan melepas tukik. Ternyata, memang ada yang bisa kita lakukan bersama-sama untuk menyelamatkan bumi.

Insight : Pada malam pertama, saya mendengar pengumuman dari masjid bahwa diesel pulau pramuka yang sudah tua tidak bisa bekerja dengan optimal. Diharap semuanya mematikan yang tidak perlu dan menyalakan AC di atas jam 12 malam. Padahal, suhu di sana amat panas. Saya terbangun dan sadar apa yang koordinator saya katakan selama ini bahwa masih ada 40 persen warga Indonesia yang belum mendapat listrik benar adanya. Di pulau yang sangat indah ini dan memiliki potensi pariwisata, listrik baru tersedia pukul 6 sore. Di samping itu, diesel menyumbang pemanasan global dan jika climate change terus berlangsung, pada tahun 2030 Indonesia akan kehilangan 2000 pulaunya, mungkin Pulau Pramuka yang indah ini. Kapan kalian akan bangun, kawan-kawan seperjuangan di kampus? Dunia tidaklah sesempit fakultas psikologi dan ini yang saya sebut permasalahan nyata masyarakat, bukan sekedar diskusi dan kajian strategis.


Malang, 15-17 Juni 2011
Kucing pemilik tempat saya live in
Saya diajak oleh koordinator saya untuk pergi ke sini dan membagi sedikit skill teater. Di sini, kami akan memberikan materi lingkungan dan teater kepada kelompok padepokan tari di Malang. Saya lupa spesifik tempatnya, namun tempat tersebut adalah sebuah desa yang cukup jauh dari jalan raya besar.
Yang ini anjingnya, Upin
Saya mulai perjalanan dengan berkumpul di atrium Senen. Ya, saya akan naik kereta ekonomi dan buat saya ini menantang, karena pertama kalinya saya akan naik kereta ekonomi dengan rentang jarak amat jauh. Di atrium saya lama berdua dengan koordinator saya karna teman saya yang satu lagi agak lama tiba. Koordinator saya membagi banyak cerita dan visi ia ke depan di unit tempat saya tergabung. Sampai detik ini, koordinator saya masih menjadi orang yang paling saya idolakan di kantor. Kemudian kami berangkat dan ternyata, malam itu terjadi gerhana. Cukup mengesankan, dan saya hampir tidak tidur malam itu. Esok paginya kami sampai dan langsung berkenalan dengan orang-orang yang mengundang kami. Mereka adalah Bonga dan pacarnya yang berasal dari US. Serta dua orang lain, Bruna asal Brazil dan Chelsea dari US. Saya langsung diajak memberi materi soal sampah pada anak-anak di sana dan membuat segmen (bagian pertunjukan kecil dalam teater). Malamnya kami beristirahat dalam gelap karena mati lampu, dan esoknya kami pulang ke Jakarta. Dalam kereta eksekutif, saya duduk di sebelah koordinator saya dan lagi-lagi kami bercerita dan share idea soal unit kami. Sampai tertidur, rasanya masih banyak yang saya ingin tanyakan pada dia.
Koordinator saya dan anak-anak


Insight : anak-anak di desa banyak yang belum tersentuh pembangunan industri. Mereka polos, bermain sesuka hati, dan siapa sangka, ada anak yang memiliki bakat teater yang cukup hebat di sana menurut saya. Ia bisa memerankan karakter bapak-bapak dengan lihai, padahal umurnya baru sekitar 8 atau 10 tahun. Inilah kawan, yang saya sebut dengan terjun langsung ke masyarakat. Dengan berbaur dengan mereka, saya yakin suatu saat kita bisa mengubah mereka, atau mungkin tidak perlu dirubah, namun setidaknya kita kenalkan dengan pendidikan.



Jakarta Hitching Race, 24 Juni 2011
Saya dan Echa
Jakarta Hitching Race adalah sebuah lomba petualangan yang diadakan Couch Surfing Indonesia, sebuah komunitas traveller dan backpacker yang tersebar di seluruh dunia. Aturan lomba ini adalah kita harus pergi ke titik-titik tertentu untuk menjawab tantangan dan berpergian hanya dengan hitch hike atau menumpang mobil pribadi, dan tidak mengeluarkan uang transportasi sedikit pun. Acara ini juga didukung Nu Green Tea, Seven Eleven, dan Hard Rock FM. Pagi hari, saya mendapat meeting point di UNJ, dan bertemu dengan tim Karimun Jawa saya, Echa dan Atep. Echa adalah fresh graduate dari sebuah universitas di Malaysia dan Atep seorang animator di Fremantle Media. Kita mulai mengobrol dan kemudian setelah mendapat peta, kami mulai bergerak.
Ternyata amat sulit mendapat tumpangan di Jakarta. Semuanya curiga dan enggan memberi tumpangan dengan berbagai alasan. Dari semua driver yang memberi tumpangan pada kami, saya terkesan dengan seorang driver yang berprofesi sebagai pilot di Sriwijaya Air. Ia tadinya cuma akan memberi tumpangan sampai Tendean, tapi ia malah mengantar kami ke meeting point selanjutnya, persis di depan spot tersebut, yaitu Kantor Greenpeace Kemang.


Insight : Masih ada orang baik dan simpatik di Jakarta, yang memberi tumpangan-tumpangan kepada kami. Dan ternyata benar apa yang telah didiskusikan sebelumnya bahwa mayoritas masyarakat Jakarta itu sendiri penyebab macet yang sering mereka keluhkan dengan hanya berkendara mobil sendirian. Bayangkan kalau mereka semua naik bus, maka macet tidak akan ada lagi. Saya percaya prediksi bahwa 4 tahun lagi Jakarta akan macet total jika keadaan tidak berubah.


Skill share @Cilember, 24-26 Juni 2011
Saya dan teman saya, Diana
Tidak bisa bercerita spesifik, intinya kegiatan ini sungguh membuat saya mendapat banyak ilmu, dari ilmu langsung sampai ilmu psikologi yang belum saya dapat lewat kegiatan perkuliahan saya sendiri. Saya senang bisa mengikuti kegiatan ini dan bertemu banyak teman baru.

Insight : Saya terinspirasi dengan film dokumenter Mahatma Gandhi yang diputar pada acara ini. Hanya dengan garam, ia menciptakan gerakan yang bisa merubah tatanan politik India. Tanpa kekerasan, ia memenangkan pertempuran. Dan meski pemberontakannya berjalan puluhan tahun, ia tetap bisa menang dan menghadiahkan kemerdekaan bagi India.


Rainbow Gathering @Ranca Upas Bandung, 3 Juli 2011
We're Rainbow Family :D
Rainbow Gathering adalah sebuah acara dimana semua orang bebas datang dan berkumpul. Tidak ada pemimpin, semuanya egaliter. Acara ini perdana di Indonesia, namun sudah sering sekali diadakan di luar negeri. Saya pernah menonton salah satu penyelenggaraannya di luar negeri lewat vimeoo.com. Camping ini unik, di mana akan terus berlangsung sampai orang terakhir meninggalkan campsite. Ketika ada yang berteriak, "We Love You" pasti akan ada yang menjawab "We Love You Too". 
Di Ranca Upas ini sendiri, sama dengan Rainbow Gathering di luar Indonesia, berprinsip egaliter dan eco-camp. Kita memakai solar panel untuk penerangan. Kita tidak memakai plastik. Makan pun dengan tempat makan masing-masing atau daun pisang. Uniknya, pada hari kedatangan saya itu, kita makan beralaskan daun pisang memanjang beramai-ramai, terasa semuanya adalah keluarga. 
Bermain Copcolicop
Makan di atas daun pisang
Beberapa anggota Rainbow Family lain yang nampaknya hippies membuat tulisan welcome home. Saya suka sekali melihatnya, meski harus pulang sore itu juga. Yang saya dengar dari Dimas, yang setelah itu menginap selama seminggu di sana, semakin hari dan persediaan makanan menipis mereka mencari petani sekitar dan membarter bahan pangan dengan rokok. Mereka menjalin kekerabatan yang kuat, hingga merasa keluarga satu sama lainnya. Saya yang hanya datang untuk sekitar 10 jam pun senang bisa bermain Copcolicop atau Dragon Ball di sana. Perbedaan usia, latar belakang, dan entah apapun itu sudah tidak ada lagi. This is home, this is family.

Waiting for next Rainbow Gathering!
Insight : tidak adanya acara yang jelas justru memberi kita peluang mengenal satu sama lain, mengajak bergabung, entah untuk memasak atau sekedar mencela pasangan di sana (ups). Sangat out of the box. Selama ini saya berpikir bahwa tidak adanya susunan acara justru membuat acara tidak bermutu dan tidak jelas. Tapi sungguh malah kebalikannya. Saya mendapat teman baru lagi di sini, Sheila-fresh graduate Ilmu Komunikasi UI, Arthur&Ranny-pasangan volunteer senior, Tege-orang gila yang hobby ngatain orang, dan banyak lagi. Hey, jika kita ingin mengadakan acara kekeluargaan, this is how we do it, dude!


YMCA @Kantor Greenpeace, 16 Juli 2011
Dr. Climate and Miss Game
YMCA (Youth Movement and Community ini Action) adalah acara gathering antara volunteer Greenpeace dan komunitas untuk membahas visi bersama serta mengimplementasikan langsung hemat energi dan berbagi dengan sesama. Kami merumuskan YMCA selama kurang lebih 3 minggu. Persiapan dimulai dengan menghubungi komunitas-komunitas, memasak, mempersiapkan stage, dan semua hal. Kami membuat mangkok dari daun pisang pada malam hari, untuk mengurangi sampah piring plastik atau styrofoam. Kami menggunakan solar panel, serta gelas kertas. Acara dimulai dengan diskusi karena ternyata sore itu hujan. Beruntung, mulai menjelang malam hujan mereda menyisakan gerimis. Setelah mencapai kesepakatan dengan komunitas untuk pertemuan selanjutnya, acara berlangsung dengan penampilan akustik. Band pertama, The Bridget membawakan akustik-akustik mellow yang sesuai dengan suasana galau. Hahaha. Dengan seluruh penerangan kantor dimatikan, hanya tinggal lampu kelap-kelip di pohon, semuanya nyaman mendengarkan permainan The Bridget. Setelah itu tampil The Blunder, kelompok orkes mini dengan komposisi flute dan biola. Mereka membawakan 3 komposisi dan sukses membuat hujan reda hahaha. Penampilan akhir, An Equal Angel, sukses membuat kami bersorak di penghujung malam. Setelah itu kami menonton video yang kami buat sendiri bagaimana anak muda bisa melakukan perubahan.
An Equal Angel
Saya membaca bagaimana teman saya terinspirasi berkat YMCA. Dan buat saya, itu lebih dari cukup.

Insight : apa yang kita tunggu untuk sebuah perubahan? Sebuah kajian strategis tidak akan pantas disebut berhasil jika tidak bisa menghasilkan perubahan. Dan dengan menginspirasi orang lain saja untuk ikut melakukan perubahan, menurut saya itu yang disebut dengan keberhasilan.


Semarang, 27-29 Juli 2011
Saya agak lelah menulis sehingga akan saya singkat sedikit.
Menyalip truk berisi sapi
Perjalanan dimulai dari Dunkin Donut's Utara, Gambir. Saya bertemu dengan salah seorang teman saya yang super ngocol dan menunggu teman yang lain. Kami menunggu kereta dan kemudian meluncur ke Semarang. Kami bertemu dengan beberapa teman lagi di sana dan kemudian menghabiskan malam dengan mengobrol sambil meminum wedang jahe susu di salah satu angkringan. Kami saling bercerita dan mencela hahaha. Kemudian esok paginya kami berangkat lagi ke tempat lain. Di tempat ini saya melihat begitu banyak perkebunan. Istimewanya, pada malam hari saya diajak ke rumah salah satu penduduk untuk mandi. Hawa segar serta langit cerah berbintang membuat saya terpukau. Penduduknya amat ramah dan kami ikut menonton pertandingan Indonesia vs Turkmenistan di sana. 
Pancuran air
Esok paginya, kami lagi-lagi diajak mandi ke salah satu pancuran air di arah jalan menuju Dieng. Dingin amat terasa dan sedikit membuat saya menggigil setelah merasakan airnya. Dalam pemandian, saya mengobrol dengan dua ibu yang sedang mencuci baju. Mereka amat ramah, dengan bahasa Jawa krama yang sedikit saya tidak mengerti. Setelah minum teh, kami  kembali dan melewati perkebunan teh yang amat luas. Saya senang dengan tuan rumah tempat saya menginap, beliau amat ramah dan berwawasan luas. Kami kembali ke kota Semarang dan menghabiskan waktu bersama sampai kereta datang pukul 10 malam.
Jalan menuju Dieng
Di ruang tunggu eksekutif stasiun Tawang, banyak sekali yang kami bertiga tertawakan. Ada anak usia smp yang mengeluarkan BB dan laptop hanya untuk sekedar bermain mahyong. Ia mengenakan kaos v-neck, dan menjadi bahan bercandaan kami sepanjang malam. Ada pula anak ABG berbusana minim, ada pula tentara yang sepertinya akan latihan gabungan yang memperhatikan baju teman saya yang bergambar tokoh komunis. Malam itu saya letih tertawa dan tertidur di kereta.

Insight : ada banyak yang bisa kita lakukan untuk masyarakat Indonesia, asalkan saja kita mau keluar dari comfort zone kita. Banyak pula yang bisa kita tertawakan, asalkan kita duduk bersama orang yang tepat.

Liburan saya belum berakhir. Ini baru cerita yang saya alami dan ke depannya saya masih memiliki rencana ke luar kota lainnya seperti Jatinangor, Semarang, Jogja, dan saya diajak teman untuk backpacking ke Bali, Lombok, dan Gili. Saya masih berharap dalam kesempatan itu sempat ke Rinjani.
Well, folks. Teman-teman saya, apa cerita ini cukup menjelaskan pertanyaan kalian, "kemana aja sih Pitek?". Tapi saya cukup senang dengan tidak beredarnya saya di kampus kalian jadi kangen saya ;)
Begitu banyak insight dari setiap acara yang saya ikuti. Sedikit banyak, ini mengubah hidup dan pola pikir saya. Kini saya percaya, diskusi dan kajian hanya sebatas 1 persen persiapan, dan aksi adalah 99 persen penentuan keberhasilan. Saya bertukar pikiran dengan alumni FEUI selama di Semarang, dulu ia juga MAPALA UI, dan ia memberitahu bahwa modal "langsung S2" setelah lulus S1 tidak akan membantu sama sekali jika kita tidak memiliki pengalaman bekerja, kecuali kita ingin menjadi dosen. Idealisme kita untuk memperbaiki masyarakat akan runtuh jika kita hanya memiliki tujuan lulus cepat, kerja, menikah, memiliki anak, dan menunggu mati. Ada banyak yang bisa kita lakukan, banyak, jauh dari sebatas pola hidup robot perkotaan macam itu. Sayangnya, generasi muda terlalu lemah untuk mengambil resiko dan berani keluar dari zona nyamannya.

Jadi, apakah boleh saya bertanya kembali pada anda, "kemana aja lo, liburan cuma di kampus?"
"Setiap daerah Indonesia yang lo pijaki itu istimewa, buat apa lo bangga pergi ke luar negeri kalo negeri sendiri aja sebenernya dangerously beautiful? Kalo lo bangga dengan pergi ke luar negeri, itu hanya menunjukkan lo calon-calon birokrat yang terjebak dalam korporasi kapitalis." [Teguh Susanto dan Arif Fiyanto, kawanan gila saya]

You Might Also Like

6 comments

  1. nama anjingnya Upin? cute!!! ahahaah :)
    *malah komen yang ga penting lagi gue :))

    ReplyDelete
  2. Thanks dii for visiting :D
    Iya, anjingnya sebenernya ada dua, yg satu lagi warna putih namanya Amel.
    Nah kucing yg gue gendong itu yg namanya Ipin. Aneh memang but still, they're cute! haha

    ReplyDelete
  3. asik asik...
    yang mau jalan" ke rinjani. ikut dong..

    ReplyDelete
  4. ada fotonya An Equal Angel, oye!!!!

    ReplyDelete

Let's give me a feedback!