Kontradiksi Kebijaksanaan

Sunday, July 10, 2016

Taken by Syed Afdhal, 2013, courtesy of Santa's Missing Deer project
Pada usia 21 tahun, Bintang (bukan nama sebenarnya) harus menjadi Direktur Utama sebuah perusahaan yang bergerak di bidang transportasi setelah kematian ayahnya. Ini terjadi pada saat tahun 2013, saat saya duduk di semester 7 perkuliahan, begitu juga ia. Saya menemuinya untuk mengerjakan tugas sebuah mata kuliah kapita selekta. Tujuannya sederhana, (tugas ini tidak mewajibkan saya untuk melakukan wawancara, tapi saya ingin saja melakukannya) yakni memastikan artikel ilmiah yang ditugaskan pada saya adalah valid. Artikel tersebut adalah meta-analisis naratif dari banyak studi mengenai kebijaksanaan (wisdom). Dalam kesimpulannya, artikel ini menyatakan bahwa kebijaksanaan psikologis bukan diukur melalui usia, namun melalui seberapa mampu seorang individu membuat keputusan terbaik untuk semua orang. Keputusan itu tentunya tidak dapat menyenangkan semua pihak, tapi memberikan kepuasan optimum bagi semua orang yang berkepentingan dalam organisasi. 

Akhirnya sampai pada pertanyaan terakhir:
"Bintang, menurut kamu, bijak dalam memimpin perusahaan itu harusnya bagaimana?"
Bintang termenung sebentar dan menjawab, "Hmm…nggak ada hubungannya dengan usia sih ya. Kupikir seharusnya orang bijak itu orang yang bisa memberikan solusi terbaik untuk semua orang. Bukan 100% semuanya senang, itu nggak mungkin. Tapi mungkin bisa melihat solusi di mana investor 80% senang, supir 80% senang, dan staf lain pun 80% senang. Aku lihat banyak orang tua dalam rapat hanya mikirin satu pihak saja, jadi kupikir mereka kurang bijak."

Dan saya bengong.
Waktu itu saya masih leha-leha mengurus rusa di kampus saya menjelang Natal dan menikmati proses skripsi saya. Anak ini, sudah membuat kesimpulan yang sama persis dengan hasil penelitian panjang para peneliti psikologi.

Jawaban Bintang membuat saya banyak berpikir sejak itu. Sebenarnya, itu adalah titik balik hidup saya. Saya keluar dari organisasi aktivis saya sepenuhnya, mengurangi aktivitas pertemanan secara signifikan (untuk mengurangi cost saya dalam berperilaku bijak, less relationships means less conflicts), mulai banyak mendengarkan (banyak konflik saya di masa lalu dimulai dari perkataan yang salah), dan menutup diri. Semester 7 itu, saya lulus dan saya memutuskan untuk tidak mengikuti penampilan terakhir angkatan saya di kampus dan yudisium fakultas. Saya menjadi sedikit membenci seremonial. 

Dalam pemikiran itu akhirnya saya banting setir ke dunia konservasi. Dimulai mencoba menjadi volunteer analis media sosial organisasi konservasi satwa Macaca nigra di Manado, kemudian berlanjut yang lain-lain hingga kini secara profesional terlibat dalam tim peneliti Komodo di Flores. Komitmen di bidang konservasi ini juga membawa saya jauh ke benua di balik belahan bumi, juga ke pengalaman lainnya yang tak terukur nilainya. Dalam dua tahun, saya menjadi pribadi yang bahkan tak berani saya impikan sebelumnya. Dalam dua tahun itu saya bertemu pribadi-pribadi luar biasa, termasuk bos saya di kantor, yang mengajarkan arti bijak dalam makna yang sama dengan Bintang dan artikel ilmiah itu. Pada akhirnya, semua kembali ke satu muara: keputusan terbaik untuk semua pihak.

--
Sampai akhirnya pada hari sebelum Lebaran 1437 H kemarin, komitmen itu berakhir. Saya memutuskan keluar dari organisasi jaringan yang beberaapa individunya saya kenal sejak saya mengurus rusa di semester 7 itu. Ada hal tak tergambarkan yang membuat saya harus berkeputusan kurang bijak kala itu: ada rasa kecewa, menyesal, sedih, dan pilu. Saya menyalahi aturan pertama saya: Jangan membuat keputusan saat marah. 

Tapi apa ya, ketiga kalinya ketika kita dikecewakan seharusnya sudah lebih dari cukup. Saya kecewa karena ternyata justru pihak-pihak yang paling saya anggap pintar (karena mereka juga menyematkan status "peneliti" pada diri mereka sendiri) dari seluruh kawanan saya melakukan hal kurang bijak dalam individu masing-masing: tidak peduli performa orang lain, tidak peduli dengan kesedihan orang lain, hipokrit, membicarakan permasalahan orang lain (ini jelas berbeda dengan curhat: curhat adalah masalah dirinya sendiri) di belakang dan merakitnya jadi bom waktu. Bos saya, yang "hanya" lulusan S1 dan kuliah selama 10 tahun, bahkan bisa mengajarkan hal yang ribuan kali lipat lebih baik. Ah, life.

Permasalahannya?
Agresivitas wanita.
Okay, ini bisa jadi artikel yang sexist dan mungkin bisa dituntut organisasi-organisasi feminis, tapi saya berhak menjelaskan. Agresivitas wanita dan pria berada pada jenis yang berbeda. Studi mengatakan bahwa wanita lebih melakukan kekerasan verbal ketimbang fisik, kebalikannya dengan laki-laki dalam kekerasan intragender. Maka kita akan sering melihat kasus bullying fisik melibatkan remaja pria dan verbal melibatkan remaja wanita. Mana yang lebih jahat?
Kalau saya sih bilang, verbal.

Kekerasan verbal tidak meninggalkan jejak lebam atau darah di pipi, tapi bisa berdampak seumur hidup. Sama halnya dengan gangguan psikologis, trauma akibat kekerasan verbal tidak kasat mata sehingga penderitanya sulit ditolong. Ada banyak "anak-anak" yang saat ini duduk di bangku kantor dan melakukan pekerjaan orang dewasa, tapi perilaku "tantrum"nya masih ada. Tantrum pada orang dewasa ditulis baik dalam sebuah artikel, yang sayangnya, di beberapa kebudayaan, berperilaku seperti anak-anak saat kita sudah berusia tua masih diizinkan dalam beberapa kebudayaan. Misalnya adalah Jepang. Pada dasarnya saya tidak meremehkan wanita, tapi saya ingin sekali, melihat wanita-wanita yang berjuang di sisi feminisme modern (percayalah, saya juga - saya memperjuangkan kepemimpinan wanita sejak SMP), untuk mengurangi kekerasan verbalnya. Kita tidak mau dibicarakan fisiknya atau dikomentari pakaiannya, tapi sudahkah kita berhenti menggosipkan masalah dan kekurangan orang lain dalam organisasi kita, atau menghormati orang dari sudut pandang lain yang bertanya dengan baik?

Hemat kata, saya mendapat 3x kekerasan verbal dari orang-orang dengan badge "peneliti" di dada dari satu bidang yang sama, semuanya wanita. Saya sudah pernah menulis tentang ini, dan saya sangat menyesal saya harus menulis kedua kalinya. Meski begitu tidak semua orang dari bidang ini jahat, ada orang-orang yang benar-benar sudah menjadi dewasa dan menunjukkan pada saya kebijaksanaan psikologisnya. Orang-orang yang mau merefleksikan kesalahannya, dan memprediksikan apa kesalahan yang mungkin terjadi dari segala tindak tanduknya. 



Sekali lagi, saya tidak membenci seluruh wanita, ada beberapa tokoh feminis yang menyatakan feminisme dengan masuk akal seperti Michelle Obama, Melinda Gates, Malala Yousafzai, Vandana Shiva, Helianti Hilman, dan Limor Fried (Lady Ada). Mereka tidak bicara hal seperti "jangan komentari baju dan make-up saya", namun mereka menunjukkan bagaimana seorang wanita seharusnya bertindak dan berperilaku, mengurusi hal penting bukannya membicarakan kolega, membela alkohol tidak ada hubungannya dengan pemerkosaan (alcohol does affect brain and has high correlation with crime - first you have to understand the difference between "affect" and "correlate" okay), mudah "ngambek" ketika keinginannya tidak terpenuhi, dan membuat dunia lebih baik. Beberapa minggu lalu saya menonton ceramah hebat dari seorang wanita hebat. Ia seorang filsuf kosmologi.




Karlina Supelli berdiri di mimbar membicarakan apakah Tuhan terbebas dari bilangan pasti yang dihasilkan hukum-hukum sains fisika dan kimia saat Ia menciptakan dunia ini. Itu sudah merupakan pertanyaan esensial dari kontradiksi terbesar di persimpangan jalan ilmu alam semesta dan Ketuhanan, dibicarakan di berbagai diskusi tingkat dunia. Saya pikir pertanyaan tersebut ada dimana-mana, mewakili perasaan saya akan kontradiksi yang sama antara ilmu dan kebijaksanaan yang masih mudah dijumpai saat ini.

This is the age of contradiction.
When common people act  more respectful compared to scientists,
and when the grown ups don’t want to grow up and being wise.


You Might Also Like

2 comments

  1. "mengurangi aktivitas pertemanan secara signifikan (untuk mengurangi cost saya dalam berperilaku bijak, less relationships mean less conflicts), mulai banyak mendengarkan (banyak konflik saya di masa lalu dimulai dari perkataan yang salah), dan menutup diri. Semester 7 itu, saya lulus dan saya memutuskan untuk tidak mengikuti penampilan terakhir angkatan saya di kampus dan yudisium fakultas. Saya menjadi sedikit membenci seremonial."

    Ini PERSIS sama kaya yang kulakuin pas kuliah. Dan aku ngrasa ini salah, hahaha. Aku selama ini ngerasa punya sedikit relationship itu salah lho karena rentan jadi anti-sosial. Terus jadi bikin susah keluarga karena jadi ga nganggep upacara adat (membenci seremonial maksudnya sama bukan?) "Less relationships means less conflicts" ini adalah yang selama ini kuanut dalam berteman, hahaha. Agak lega tahu gak sendirian mikir gitu. Komen aja, haha.

    Mungkin boleh kutambahkan juga cara bergaul yang diajarkan Rasulullah karena kulihat kamu juga seorang muslim: jangan marah terhadap saudaramu sesama muslim lebih dari tiga hari. Berkonflik dengan sesama manusia itu manusiawi, sakit hati dan mengurangi hubungan dengan orang lain itu kupikir tidak masalah, tapi jangan sampai memutus tali silaturrahim (aku baca kamu kenal mereka dari sejak semester 7 dan masalah terjadi sebelum lebaran). Bicara tentang kebijaksanaan, mungkin kamu mau mengeksplorasi juga sudut-sudut pandang agama tentang ini. Aku percaya gak akan jauh bedanya sih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini Iga ya?

      Saya mengartikan seremonial sebagai sebuah upacara perayaan yang melibatkan orang banyak yang sebenarnya tidak begitu saling mengenal tapi terpaksa duduk di meja yang sama. Upacara adat yang intim saya kira masih penting dilakukan, bersama orang-orang terdekat.

      Sebenernya kalau mau pakai pandangan itu: they are not Muslims so I don't care. Semua yang konflik sama saya itu bukan muslim selama dua tahun itu.
      Tapi karena saya berusaha objektif, muslim atau bukan, gay atau bukan, wanita atau bukan (unfortunately in this case they are all women), sosialita atau bukan, saya menghargai orang saat dia menghargai orang lain. Saya menghargai orang sebagai individu independen yang bisa membuat keputusan masing-masing. Saya memang jarang bawa agama dalam penyelesaian konflik, karena apakah saat kita berkonflik dengan non muslim, kita harusnya pakai cara kita atau cara dia? Indonesia berasaskan Pancasila bukan Islam.

      No, that is not my way in having conflict.

      Untuk eksplorasi sudut pandang agama untuk masalah, aku punya prinsip untuk tidak mencampuradukkan agama (ajaran/kepercayaan yang spesifik) dan sains. Menurutku sih ya, bukan begitu caranya. Tuhan bekerja dengan cara yang tidak bisa kita pahami, unquestionable, undeniable. Saya berTuhan sama layaknya seorang ateis memandang Tuhan. Saya percaya Dia ada di setiap molekul udara atau api yang diciptakan manusia. Tuhan itu semesta, dan siapa kita berani-berani memakai namaNya untuk menjelaskan fenomena sains yang masih sangat terbatas untuk kita pahami. Makanya, saya lebih menjelaskan fenomena-fenomena ini dari sudut pandang sains (kita bicara sebuah konstruk yang namanya "konflik" ya - dan dalam sains Psikologi penjelasan keagaaman tidak diakui karena pasti ujungnya akan memihak pada satu pihak), karena bisa diperdebatkan secara adil tanpa memandang status agama seseorang. When it comes to religion, nothing is debatable. Namun jika bicara dari sudut pandang sains, dalam Dinamika Kelompok, ujung dari konflik bisa berupa resolution atau dismissal. Individu bisa bertahan dalam satu hubungan, atau pergi.

      Ada satu video menarik tentang ini:

      https://www.youtube.com/watch?v=0Rnq1NpHdmw

      Delete

Let's give me a feedback!