Kuliah Hari Ini

Sunday, September 11, 2016


Baru-baru ini saya dikirimi sebuah buku dari sahabat di Amerika Serikat, buku kumpulan puisi Maya Angelou. Sebenarnya saya nggak pernah paham dengan indahnya puisi gaya Barat. Saya justru lebih suka karya Rumi, Confucius malah, karena kadang puisi gaya Barat terasa terlalu pragmatis dan "apa adanya". Tapi mata saya terpaku pada satu puisi berjudul "Caged Bird" berikut:

A free bird leaps
on the back of the wind
and floats downstream
till the current ends
and dips his wing
in the orange sun rays
and dares to claim the sky.


But a bird that stalks

down his narrow cage
can seldom see through
his bars of rage
his wings are clipped and
his feet are tied
so he opens his throat to sing.


The caged bird sings

with a fearful trill
of things unknown
but longed for still
and his tune is heard
on the distant hill
for the caged bird
sings of freedom.


The free bird thinks of another breeze

and the trade winds soft through the singing trees
and the fat worms waiting on a dawn-bright lawn
and he names the sky of his own.


But a caged bird stands on the grave of dreams

his shadow shouts on a nightmare scream
his wings are clipped and his feet are tied
so he opens his throat to sing.


The caged bird sings

with a fearful trill
of things unknown
but longed for still
and his tune is heard
on the distant hill
for the caged bird
sings of freedom.


--



Hidup saya saat ini memasuki status quo. Saya tidak beranjak kemana-mana, tidak maju, tidak pula mundur. Saya hanya sedang melanjutkan apa yang sudah saya mulai saja, dan pelan-pelan itu membuat saya berantakan. Ada yang hilang dari hidup saya yang saya juga tidak tahu itu apa. Mungkin jengah, atau mungkin muak. Atau keduanya. Atau bukan keduanya. Ditambah kakak saya menikah, memicu saya untuk memikirkan kembali apa benar saya mau menikah segera setelah ini?


Segera?


Ada hal yang mencegah langkah saya, hanya saja itu cerita personal. Dan saya kembali tidak maju atau mundur. Saya rasa status quo adalah hal yang hampir dirasakan orang-orang di belantara Jakarta - setidaknya teman-teman dekat saya.


Jadi saya habis baca sebuah artikel ilmiah yang bagus. Judul besarnya adalah "Don't Tell Me Who I Can't Love" dari Sinclair et al, yang baru terbit 2016 ini di Social Psychology Quarterly. Karena tidak semua orang senang kalau saya cerita soal metode dan statistik, maka intinya temuan penelitian ini adalah persetujuan orang tua dan teman mempengaruhi level rasa cinta kita pada pasangan. Baik itu di dunia nyata (mereka menggunakan survey), pasangan imajiner (eksperimen), atau pasangan di internet dating yang belum pernah ditemui secara langsung (eksperimen). Then it struck me: What is love? Is that a thing that we feel, or, our significant others approve? Tapi seperti umumnya penelitian Psikologi masa kini, ada faktor moderasi yang dihitung yakni resistensi kita sendiri terhadap penilaian orang lain (independent reactance). Kalau kita orang yang cukup tahan atau resisten terhadap penilaian orang - maka cinta yang kita miliki terhadap pasangan tidak dipengaruhi oleh setuju atau tidak setujunya orang tua atau teman terhadap pasangan ini.

Tapi saya di Jakarta tidak hidup dengan orang-orang semacam ini. Iya, pernikahan makin multikultural dan rasial, bahkan agama. Jakarta menjadi melting pot super besar yang bahkan kita bisa lihat orang dari segala macam suku dan bangsa. Tapi bukan itu masalahnya: masalahnya kita hidup hanya terus demi memuaskan "penilaian orang lain yang kita anggap penting"dan itu yang membuat saya jengah. Saya mungkin sudah terlalu banyak tidak memenuhi ekspektasi orang tua tapi saya selalu berusaha menjelaskan ke ayah saya (terutama) mengapa saya memilih A, B, dan C. Dan seperti biasanya, ayah saya akan mengalah dan (mungkin) mencoba memahami pilihan saya. And yes, we are all naïve scientist.


Hari Jumat kemarin saya ada kelas Kognisi Sosial. Saya nggak pernah suka kuliah berbau kognisi meski saya aliran Beavioristik (yang dikawini sedikit dengan Humanistik-Positivistik), dan dosen yang saya dapat adalah dosen yang belum pernah saya temui sebelumnya saat S1. Tapi hari itu saya pikir ia memberikan pernyataan yang cukup bagus mengenai Cognitive Psychology. Orang-orang aliran Kognitif tidak bisa menjelaskan individual differences atau kebahagiaan. Kalau memang kita mesin yang digerakkan stimulus dan berespon pada stimulus tersebut, kenapa banyak orang Jakarta memutuskan keluar dari kota dan banting setir sama sekali. Ia mencontohkan temannya yang bahkan sudah memiliki gelar MBA dan posisi bagus di sebuah perusahaan perbankan lalu pindah haluan menjadi pengajar Zumba. Jadi apa, sebenarnya yang kita kejar?


Mungkin kebebasan. Seperti yang Maya Angelou gambarkan melalui puisinya (yang terkait dengan buku biografinya "I Know Why the Caged Bird Sings").
Kebebasan untuk jadi diri sendiri.
Kebebasan untuk melakukan apa yang menurut kita bermanfaat.
Kebebasan untuk menjalani profesi yang esensinya lebih dari "pay the bills".
Kebebasan untuk mendefinisikan bahagia dengan kondisi ideal kita masing-masing.
Kebebasan untuk mencintai siapa yang kita pikir adalah pelengkap jiwa kita.


Dan layaknya burung di sangkar itu;


Can you hear my song,
along the stream of the river?
Because I am afraid it will lost
in the gulf before the ocean.

You Might Also Like

2 comments

Let's give me a feedback!