Transisi

Wednesday, January 11, 2017


Ada rasa kecewa dan marah saat saya tahu beberapa orang yang saya hormati secara personal tidak sama antara apa yang terucap lewat bibir, tertampak lewat wajah, dan tertampil lewat perilaku. Disonansi psikis antara kognisi, afeksi, dan psikomotor inilah yang membuat saya kecewa begitu lamanya, bertahun-tahun. Tidak banyak orang mengerti. Yang paling sedih, orang yang saya anggap saat itu partner hidup, juga tidak mengerti. Teriakan dan tangisan tanpa henti, rasanya dunia juga mungkin iba. Untungnya saya percaya, Semesta mau merangkul mereka yang mau baik kepadanya.

Hijrah.

Saya ingat betul yang bertahun-tahun lalu saya tulis mengenai pria idaman. Kenalkan saya pada pria yang senang membaca dan berhijrah, dan saya akan jatuh hati kepadanya. Bahwa membaca dan berhijrah adalah perintah Tuhan yang sungguh luas maknanya, dan saya selalu pegang hingga saat ini. Saya sampai pada titik nadir untuk tahu bahwa saya perlu berhijrah segera. Saya berpenyakit, dan saya sudah mati di dalamnya. Saya rela meninggalkan status yang saya kejar bertahun-tahun, dan lupanya orang akan perjuangan saya di awal masa-masa itu.

Ah, apa sih pentingnya celetukan orang?


Enam belas Desember lalu jadi titik balik saya. Saya bersyukur sudah lepas dari rupa-rupa pembicaraan yang fungsionalitasnya hampir nihil. Merebut waktu saya untuk berpikir mengenai hal-hal yang lebih esensial mengenai hidup ini dan the ultimate goal of life: berguna bagi orang lain. Kala saya berpikir di penghujung petang mengenai gagasan yang mungkin bisa berkontribusi bagi masyarakat yang mungkin pemerintah saja sudah lupa akan keberadaannya, dan terusik oleh ocehan-ocehan mengenai hal yang jemu kita bahas setiap harinya dan itu-itu saja. Maka Jumat itu, tanggal 16, saya sudah membereskan meja saya terakhir kali dan memeluk beberapa teman yang pernah bertahun-tahun begitu dekat, bercengkrama dengan teman-teman satu almamater di kantor, hingga akhirnya pamit pada sekitar. Berangkat ke tempat yang saya belum pernah datangi sebelumnya bersama orang-orang yang tidak saya kenal sama sekali sebelumnya.

That was a good leap.

Ada masalah di lapangan, itu wajar. Saya mengalami depresiasi kontrol emosi saat itu tapi saya bersyukur punya partner yang begitu luar biasa mau memaklumi saya. Setelah pulang dua hari, perjalanan panjang lain menanti, my ultimate bucket list: Taman Nasional Baluran. Jadi sejak dulu, saya selalu ingin pergi ke Taman Nasional. Menurut saya ada beda antara masuk Taman Nasional untuk naik gunung dan masuk Taman Nasional untuk tujuan lain selain sekedar melancong. Saya kali ini diajak oleh partner saya untuk melihat langsung permasalahan ekologis dan sosial di Taman Nasional ini. Senang sekali bisa ikut silaturahmi ke tempat yang saya tahu sangat berarti buat partner saya ini sejak 2 tahun yang lalu, dan ikut dalam kegiatan mengangon sapi.

Kumpulan Manusia-manusia Menyenangkan
Ada perbedaan mendasar antara masyarakat yang hidup di pesisir dan pegunungan. Adapula perbedaan lain pada masayarakat yang hidup di pesisir tapi berdekatan dengan savanna dan bukit yang luas seperti site penelitian saya di Flores Utara. Tapi baru kali ini saya bertemu dan hidup langsung dengan masyarakat yang hidup di pesisir tapi juga dekat hutan alami dan perbukitan, namun memiliki akses begitu minim, baik secara hukum, geografis, informasi, dan tentunya ekonomi. Umumnya, masyarakat pesisir justru terbuka dan kaya akses karena dari sejarah kita bisa lihat, kota-kota besar yang eksis hingga saat ini adalah kota pesisir. Detilnya sulit saya tulis di sini, tapi pengalaman ini memberikan saya gambaran jelas evolusi sosial hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan binatang, dan juga manusia dengan bentang alamnya.

Lihat Sesuatu di Foto Ini?

Pulangnya, kami berdua ketinggalan perahu dan harus berjalan untuk keluar dari area Taman Nasional. Saya senang sekali karena akhirnya mencicipi hutan Baluran bersama dengan pemandu super menyenangkan. Kami berhenti sejenak di pantai kosong, yang lucunya dapat terwujud meski kami berdua sama-sama disiplin soal waktu perjalanan namun sama-sama lemah terhadap situasi yang diciptakan Semesta. Sampai di pos Bama, kami mendapat keberuntungan lain karena beberapa polisi hutan akan berangkat keluar Taman Nasional untuk berganti patroli tahun baru dan kami bisa menumpang sampai ke Batangan.

Setelah istirahat semalam, kami lanjut ke Kawah Ijen. My another bucket list, thanks to National Geographic. Akhirnya kesampaian juga melihat blue fire dan yang terpenting, bakul-bakul pikulan penambang batu sulfur yang melambangkan betapa kita, meski mengutuki tinggal di The Ring of Fire dengan 127 gunung api aktif dan segudang bencana yang potensial muncul akibatnya, tapi di sisi lain juga hidup darinya. Antara manusia dan alam yang terus berkonflik tapi juga harus berdamai – rasanya human-nature conflict is the most blatant love-hate relationship that ever exists, yet we still desperately try to find the way to deal with it.


Setelah turun, kami secara random menemukan bahwa Kampung Osing, salah satu kampung adat Banyuwangi, tidak seperti yang kami bayangkan, dan kami terdampar di rumah seorang pengrajin kriya bernama Pak Agus. Ia menjelaskan bagaimana kain tenun asli Osing sudah hampir punah dan saat ini hanya tersisa satu, satu saja, penenun dari Suku Osing. Setelah itu kami kembali ke Banyuwangi, bertemu dengan teman lama partner saya, dan menyeberang ke Bali, melewati Taman Nasional Bali Barat dan menuju ke Selatan.


Akhirnya saya kembali lagi ke Tenganan, dan betapa sayangnya Semesta pada saya, akhirnya ada upacara adat yang bisa saya datangi. Dan akhirnya, setelah ketiga kalinya datang ke Tenganan, saya bisa trekking! Tanah Tenganan begitu istimewa bagi saya, sistem sosialisme adat yang diterapkan dan pernikahan endogami menyebabkan tanah yang ada saat ini dan pembagiannya (hutan : sawah : pemukiman) tetap bertahan sejak dulu kala, karena ada larangan untuk menyewakan dan menjual tanah pada pihak luar. Setelah belajar beberapa hal (dan makan banyak hal) di sana, kami berangkat ke Batur.

Maafkanlah Partner Saya Ini

Hal yang menarik di Batur ini adalah perjalanannya. Menarik sekali untuk menjelajahi bentang alam Bali dari pesisir Selatan menuju Tengah mengarah ke Utara. Kemudian esok harinya kami memulai pendakian Gunung Batur, lalu turun kembali dan menyusuri pantai Timur Bali menuju Amed. Menariknya, tempat-tempat yang kami kunjungi umumnya ramai pengunjung (atau imigran?) Kaukasian ketimbang turis lokal. Amed ini tempat yang sepi, tapi ramai penyedia jasa diving. Meski selama di sana hujan, Amed punya atmosfer untuk kita bisa duduk tenang dan berkontemplasi. Sore kedua kami habiskan untuk duduk di batu tengah hujan untuk berdiskusi banyak hal, terutama hal-hal yang terjadi selama dua tahun terakhir di mana kami jarang sekali bertemu dan berdiskusi.


Setelah Amed, kami kembali menuju Denpasar dan bertemu dengan kawan lama. Dalam diskusi, ada satu hal yang membuat saya kecewa lagi dalam sekejap. Tidak mudah ternyata memaafkan bekerja tiga tahun di belantara ibukota, meliputi manusianya. Tapi, Bali selalu punya cara lain untuk membuat saya bahagia. Saya kemudian di hari terakhir mampir ke rumah pelatih tari saya, dan saya senang sekali dengan neighborhood-nya. Ada anjing-anjing lucu (tapi juga jail) yang akan jadi teman saya sebulan ke depan. Cerita detil tentang ini akan saya tulis lain kali sepulang dari sini, saat harus kuliah lagi ya.

Juga tentang partner saya.

Juga tentang keputusan saya yang lain.

Selamat Berhijrah dari Saya dan Bli Wayan
Ini hijrah saya, dan saya bukannya meminta izin Anda yang membaca. Saya ingin mengajak Anda juga untuk menentukan sendiri, apa hijrah Anda, sekedar untuk jadi manusia lagi.

Dan, dari saya dan partner saya: jangan lupa bahagia, ya!

You Might Also Like

0 comments

Let's give me a feedback!