Sebuah Nama

Thursday, March 02, 2017

Sore itu dingin sekali, dan saya langsung mencari taksi saat keluar dari bandara yang begitu sibuk. Saya mendapat supir yang sangat ramah, mengajak saya berbincang sepanjang jalan sambil mengamati pepohonan di pinggiran sepanjang jalan tol yang mulai meranggas. Malam itu saya berencana bertemu kembali dengan seorang wanita hebat yang pada pertemuan terakhir kami, ia menyiratkan dengan mata berbinarnya bahwa ia selalu percaya pada saya dan mimpi-mimpi saya. Sosok ibu yang selalu saya dambakan, yang selalu mau membaca, tegas mengkritik pekerjaan saya dan juga mendukung saya saat saya butuh sedikit dorongan. Setelah menaruh barang saya yang hanya berupa satu tas punggung dan satu tube di kamarnya, kami berjanji untuk berbincang sambil makan sup di daerah Pecinan setelah ia menyelesaikan urusannya. Sembari menunggu, saya bisa berkeliling menikmati suasana kota yang saya baru saja tinggalkan sebulan lalu.


Pukul 8 malam, 9 November 2015, minggu pertama musim dingin di Washington DC. Gerimis tipis menyertai langkah saya menuju The Capitol yang sedang direnovasi. Saat saya merapatkan long coat, saya merasakan getaran lembut dari ponsel di kantungnya. Hampir dua puluh empat jam di pesawat, ini pesan pertama saya di sini – yang untungnya sinyal Wi-Fi dari hotel masih menjangkau posisi saya.

Adrian Dwiputra: “Ta, lo harus nonton film The Little Prince.”

Langkah saya terhenti.

***

Dua belas jam lalu saya duduk sendiri di pesawat yang membawa saya dari Indonesia ke Jepang untuk transit penerbangan ke Amerika Serikat. Entah sudah apa saja yang saya lakukan dalam penerbangan 7 jam ini, dari tidur-bangun-baca-mengamati jendela-tidur lagi dan lainnya. Saya memencet-mencet remote kendali layar di depan saya, melihat-lihat barangkali ada film menarik yang baru rilis dan bisa saya tonton dibanding memperhatikan koordinat penerbangan saya yang hanya bergerak perlahan.

“The Little Prince”

Yang saya ingat, cerita tentang pilot terdampar dan seorang pangeran dari luar angkasa ini adalah cerita satir asal Prancis untuk hidup monoton orang dewasa, yang mengejar hal-hal materialistik dan acuh untuk membangun hubungan sosial yang “nyata”. Saya putuskan untuk menonton. Dan saya menangis.


Perjalanan kali itu adalah salah satu perjalanan terpenting dalam hidup saya di mana saya akan mempresentasikan hasil pekerjaan saya selama 6 bulan bersama tim dalam membangun aplikasi kontrasepsi. Tanpa saya tahu, itu adalah pekerjaan terakhir saya yang akan begitu berkesan di kantor saya saat itu sampai saya memutuskan resign akhir 2016 lalu. Saat itu kondisinya saya sedang single setelah menyudahi dua tahun hubungan dengan seseorang karena perbedaan visi. Film The Little Prince tersebut menjadi pelengkap saya merasakan kemerdekaan, dan juga mendefinisikan ulang “bahagia” versi saya. Masa itu adalah awal dari masa transisi terbesar saya.

Beberapa kalimat yang saya sangat ingat dari bukunya:

“Then you shall judge yourself. That is the most difficult thing of all. It is far more difficult to judge oneself than to judge others. If you succeed in judging yourself rightly, then indeed you are very wise.”
“And what use is it to you to own the stars?”
“Grown-ups are very strange.”
“Now here is my secret. It is very simple. It is only with one’s heart that one can see clearly. What is essential is invisible to eyes.”

Maka saat seorang kawan lama yang sudah hampir dua tahun terpisah jalan meminta saya menonton film yang baru saja saya tonton dalam perjalanan saya, dari buku yang sangat berarti untuk saya, rasanya Semesta ingin memberitahukan sesuatu. Kami menonton sesuatu bersamaan di belahan bumi yang berbeda.


Tapi saya salah saat itu. Semesta memberi jalan untuk ke arah yang lain, dan sepulang saya dari Amerika itu, saya terdampar di Singapura dan memutuskan untuk menjalin komitmen dengan orang lain.

***

Orang pertama yang menyapa di musim dingin itu dan meminta saya menonton film The Little Prince tersebut adalah orang pertama yang mengenalkan saya ke dunia konservasi, dunia yang kini akhirnya menjadi tempat saya mencurahkan segala perhatian saya dari tesis, pekerjaan, hingga kehidupan pribadi. Sejak semester kedua kuliah saat S1, saya sudah tidak banyak bergaul dengan sesama penggiat Psikologi. Pada masa saya dalam kontrak skripsi “tidak boleh pacaran”, saya bertemu dengan orang itu di Babakan Siliwangi. Kemudian ia mengenalkan saya pada International Animal Rescue dan konservasi kukang, juga menantang saya untuk melakukan sesuatu dengan rusa-rusa yang penanganannya tidak optimal di universitas tempat saya belajar kala itu. Agustus hingga September 2013, tim Santa Missing’s Deer mengupayakan segala hal dari survey serta rencana zonasi, dan semuanya pupus ketika saya ditemani salah satu teman dari FTUI berkonsultasi ke pak Gono Semiadi. Dari awal rencana memberikan perbaikan kandang pada Natal 2013, September itu saya mendapat pesan singkat dari kontak kami di PLK UI bahwa UI setuju untuk segera memindahkan rusa-rusa ke penangkaran di bawah Perhutani.


Saya, dengan semangat, mengabari mahasiswa ITB itu yang sedianya selalu menanggapi “dengan seadanya”, dan untuk kedua kalinya membubuhkan namanya di kolom terima kasih dalam proyek saya (dengan dua tim berbeda). Seperti yang saya duga, orang ini, yang selalu datang dan pergi sesuka hati, akan selalu membalas ala kadarnya. Namanya tidak pernah bisa diprediksi untuk datang di ponsel saya. Sekali waktu mengundang saya ke acaranya di Taman Cibeunying (dan Semesta punya rencana lain untuk mempertemukan saya dengan partner dua tahun saya yang sudah disebut sebelumnya), sekali waktu mengabari tidak bisa datang ke sidang maupun wisuda saya untuk persiapan ke Baluran. Saya sih tahu diri waktu itu. Seberapa saya kagum dan jatuh hati dengan pria ini, saya tahu dia milik orang lain.

Dan ada batas perbedaan identitas sosial di sana yang begitu besar.
Tapi sejujurnya sih ya, karena saya belajar bahwa kategorisasi diri dan identitas sosial hanyalah hal-hal semu yang diciptakan kelompok tempat kita bertumbuh, buat saya perbedaan itu tidak ada maknanya. Studi membuktikan bahwa otak kita perlu bekerja lebih keras dalam meredam prasangka dan stereotipe terhadap orang dari luar kelompok sosial kita, yang berarti sebenarnya kita hanya tidak mau mengeluarkan effort lebih untuk menerima perbedaan dari anggota outgroup.

Saat itu saya bersahabat dengan mahasiswa Teknik UI yang membantu saya mengambil data skripsi saya. Ia, yang suka memanggil saya dengan “Zarah”, sudah bosan sepertinya mendengar cerita saya mengenai pria ini, yang saya selalu gambarkan dengan “tak nyata, pun tak semu”. Dari perjalanan kami dengan tim IAR ke daerah Gunung Salak, tantangannya di kandang rusa UI, pertengkaran hebat di Pulau Pari, dan Kebun Binatang Bandung. Pria yang tak pernah berhenti menginspirasi saya untuk terus mengejar apa yang saya inginkan. Pria yang pesan-pesan singkat “ala kadarnya” bahkan membuat sahabat saya itu merebut ponsel saya saking penasarannya.


Desember 2013, saya menyadari kalau sosoknya akan selalu menjadi milik orang lain, dan saya memutuskan pergi.

***

24 Agustus 2016, titik terburuk saya.
Saya menyatakan saya akan keluar dari kantor yang menjadi tempat pulang kedua saya selama hampir 3 tahun terakhir. Saya dibentak oleh orang yang saya percaya saat itu akan jadi pendamping hidup saya, di hari yang sama saat saya mengajukan resign. Saya orang yang penyendiri, tapi dengan dua kejadian buruk paska lebaran saat itu, saya makin buruk dan makin menarik diri dari lingkungan sosial saya. Beberapa minggu kemudian, saya menyudahi hubungan itu.

Hal terburuk: saya mendiagnosa diri saya sendiri menggunakan panduan DSM yang dulu hanya saya gunakan untuk perkuliahan Psikologi Abnormal.

Saya depresi.
Dan seperti depresi pada umumnya yang hampir tidak terdeteksi, saya kehilangan kepercayaan dan semangat dalam menjalani hidup sehari-hari, hampir tanpa terdeteksi. Kolega saya mungkin akan kaget membaca ini karena saya selalu menyelesaikan pekerjaan saya, tapi sebenarnya itu hanya sebuah prinsip saya bahwa kondisi emosi tidak boleh mengganggu pekerjaan.

Saya tertekan melihat kondisi manusia-manusia di sekitar saya yang begitu egois, kerap ingkar janji, tidak konsisten, being ungrateful bastards, hipokrit, too get into politics, oportunis, saling hujat atas nama agama, kesetanan saat membahas ketuhanan, menjadikan simbol agama untuk membenarkan opininya, dan lainnya…

Ada rasa menyerah untuk mengubah kondisi itu, menangis tiba-tiba, dan terbangun dari tidur saat malam, dan simtom-simtom episodik lainnya (dan entah bagaimana, Facebook secara terus menerus sejak beberapa bulan ini memberikan saya suggestion untuk melihat website terkait penanganan pertama depresi).

Nama itu kembali datang.

Tepat di saat saya hampir kehilangan semua pertolongan. Saya tidak tertarik kembali ke Klinik Konseling Psikologi UI setelah 4 tahun lamanya. Rasanya saya sedang mencari lagi kemanusiaan yang tercecer entah di mana. Pria ini kembali datang dan mengajak saya minum cokelat hangat.

Ia kini sudah selesai dengan tugas akhir tentang anjing hutannya, dan bekerja (surprisingly) as a programmer. Saya duduk saat itu, merasa didengarkan, dan juga mendengarkan. Saya mengatakan saya tidak bahagia sambil tertawa palsu di depannya, dan saat itu kami berpisah masih sebagai dua orang yang ala kadarnya. Hanya mengucap sampai jumpa lagi. Entah kapan saya akan bertemu lagi dengannya, sepertinya hanya Semesta yang tahu.


Kemudian tanpa disengaja saya tahu bahwa ia sudah selesai dengan hubungannya yang selama ini selalu saya hormati sebagai “hubungan paling awet masa kini”. Ada beban imajiner saat itu, untuk mengetahui saya akan pergi dengannya untuk sebuah inisiasi. Tapi sekali lagi, emosi tidak boleh mengganggu pekerjaan, dan perencanaan kami lalui dengan pace yang begitu aneh.

Terakhir kali kami berdebat hebat di lapangan adalah di Pulau Pari, yang dalam kelanjutannya pria ini pernah menghardik saya dan mengatakan bahwa saya sama sekali tidak mengenalnya. Sampai saya mengetahui ia selesai dengan hubungannya, saya masih punya mindset bahwa kami berdua hanya orang asing yang berbagi visi yang sama. Tapi pada masa kelam itu (hingga saat artikel ini ditulis), pria ini membuktikan ia selalu ada, seberapa pun buruknya situasi yang ada. Tanpa kenal lelah membuktikan pada saya bahwa saya patut mendapatkan kasih sebesar yang sudah saya berikan pada yang lain selama ini. Tanpa kenal lelah membuktikan pada saya bahwa no matter how bad the society is, saya selalu punya kesempatan untuk memperbaikinya. Tanpa kenal lelah menunjukkan bahwa saya berhak bahagia.

Dan setelah melalui lebih dari 3,5 tahun menjadi dua orang ala kadarnya dan kini ia menjadi orang yang selalu ada, setelah diskusi-diskusi panjang yang tak pernah kehilangan kehebatannya, buku-buku kami yang serupa, lagu-lagu yang kami bagi dan gumamkan, surat-surat tak terbalas, artikel ilmiah yang saling kami kirimkan, cerita sendu yang kami saling dengarkan, dan isyarat-isyarat yang tidak pernah bicara, pada Supermoon lalu kami sadar bahwa kami saling membutuhkan lebih dari yang kami bayangkan.

Kami bukan orang yang bisa selalu melihat sisi baik dari orang lain, bahkan mungkin kami pembenci. Tapi kami selalu bisa mengingatkan satu sama lain bahwa ada manusia di luar sana yang menunjukkan arti kemanusiaan sebenarnya. Seperti saat saya di kantor baru saya di Denpasar menunggu hujan bersama lima orang pria, seluruhnya dari Flores, menonton sidang Ahok soal (katanya) penistaan agama. Salah satu dari pria itu tertawa saat melihat arak-arakan pria berbusana panjang putih.

“Mereka ini harusnya belajar toleransi di Flores. (lalu memandang mata saya) Di sana kami, mbak, masjid dibangun orang kristen dan gereja dibangun orang muslim. Keluarga pada umumnya memiliki anggota dengan dua agama tersebut, artinya kalau orang kristen memusuhi muslim karena agama, ia memusuhi saudaranya sendiri.” Baru-baru ini saya membaca berita orang yahudi membela diskriminasi oleh Trump, dan komunitas muslim menggalang dana untuk pemakaman yahudi yang menjadi korban vandalisme. Terakhir saya baca, bantuannya mencapai lebih dari 90,000 USD. Saya menangis karena saya tahu, penelitian membuktikan bahwa orang-orang dengan religiusitas intrinsik (beragama karena motivasi dalam diri, agama dipandang sebagai way of life bukan alat untuk mencapai surga atau menghindari dosa), akan membantu orang dari agama lain yang dilecehkan karena mereka tahu rasanya memiliki keyakinan agama. Quraish Shihab menulis dalam tafsir Al Mishbah, ada 3 faktor dari sebuah perilaku yang pantas mendapat pujian yakni (1) Indah atau baik, (2) dilakukan secara sadar, (3) tidak terpaksa atau dipaksa. Satu lagi, ayat terpendek dalam Al Fatihah, ditulis Quraish Shihab memiliki makna sifat Tuhan yang paling agung: Maha Pengasih, Maha Penyayang. Maka ketika kita benar-benar menghayati ciri kepribadian-Nya, kita harus bisa menampilkannya dalam diri untuk mencurahkan rahmat kasih sayang kepada sesama manusia tanpa membedakan suku, ras, agama, maupun tingkat keimanan. Maka siapa kita berhak menyakiti orang lain karena perkataan kita berdasarkan empat kriteria tersebut? Bahkan Tuhan pun tidak pilih kasih memberikan rahmat dan kasih sayang-Nya.


Kami sadar kompleksitas pemikiran kami yang begitu meluap membanjiri ruang yang tidak bisa dimasuki orang lain selain kami berdua. Kami sadar bahwa kami bukan favorit orang-orang sekitar kami dan kami senang bahwasanya dalam situasi sulit di lapangan pun, kami bisa menyampaikan kritik untuk  masing-masing dengan diskusi yang sangat menenangkan.

Saya baru mengenal pria ini yang sebenarnya beberapa bulan ke belakang, dan saya justru makin kagum dengan sosoknya. Ia bisa dengan hebatnya memberi penjelasan pada seorang petani ilegal dengan begitu humble dan perlahan, sebuah hal yang jarang saya lihat dari “akademisi meja kantin” di kampus-kampus ternama (yang juga membuat saya muak dengan fakultas saya sendiri dan memotivasi saya untuk pergi segera saat S1). Begitu sabarnya menunggu saya kelelahan dalam pendakian gunung, atau membawa beban yang jauh lebih berat tanpa mengeluh sedikit pun. Ia bisa menikmati pantai sepi hanya dengan duduk dan tertawa bersama saya, dengan bekal dari ibu host kami. Bukan bekal yang fancy, hanya nasi dan beberapa ikan goreng kecil. Tapi sebegitu menghargainya ia akan setiap bulir nasi di panci Trangia-nya, adalah bentuk penghormatannya akan koki makanan tersebut. Orang yang bisa dengan mengagumkan mengatakan dengan yakin di depan masyarakat lokal:
“Saya mungkin nggak bisa bantu Bapak dengan tiba-tiba ada kapal di pantai belakang rumah Bapak untuk Bapak melaut, tapi sebagai peneliti, bantuan yang bisa saya berikan adalah pemikiran saya Pak. Mungkin bisa salah Pak, karena peneliti boleh salah, tapi nggak boleh bohong.”


Dan dengan segala hal yang masih perlu ia lakukan dengan dirinya sendiri, ia selalu menyempatkan diri mendengar cerita saya setiap harinya. Ia bisa tiba-tiba muncul di depan kosan saya saat saya sedih atau sakit, tanpa diminta. Membawakan bunga saat saya butuh dukungan akan keputusan besar saya, dan menyediakan bahu untuk saya mendapatkan asupan energi di tengah dunia yang tak pernah beraturan ini. Membaca tulisan-tulisan saya atau seluruh link yang saya bagi hanya untuknya. Belajar memasak Chinese dish favorit saya untuk ulang tahun saya, menjadikan ulang tahun ke-24 saya menjadi ulang tahun yang paling pantas dikenang seumur hidup saya.

Dosen saya pernah bilang, seorang psikolog akan butuh psikolog lainnya untuk mendengarkan masalahnya.
Saya bukan psikolog, tapi saya tahu yang saya butuhkan mungkin hanya seorang alumni jurusan Biologi yang selalu ada untuk mendengarkan saya dan mau bersama saya mewujudkan visi bersama.
Selama 3,5 tahun ke belakang saya hanya bisa menatap punggungnya.


Untungnya saya tahu kini saya akan selalu bisa melihat senyumnya.

***

27 Januari 2017, pukul 6 sore WITA di Denpasar. Kidung Tri Sandhya bergaung di televisi lokal. Saya menghentikan sepeda di depan warung makan malam langganan saya. Sambil menunggu pesanan, sebuah koran lokal tergeletak. Saya penggemar makanan-makanan Chinese (btw, kalo Anda yang baca ini anti Cina, jangan pernah makan masakan Cina lagi ya – ini perkara serius buat saya), jadi saya tertarik membaca salah satu artikelnya mengenai lunpia. Lunpia ini ternyata adalah buah karya pasangan lelaki Tionghoa dan wanita Jawa yang menikah dan menyatukan kreasi kue yang biasa mereka dagangkan. Kalimat pembuka artikel tersebut, yang menjadi penggambaran terciptanya lunpia kesukaan saya, akan saya relakan menjadi penutup tulisan ini.


“Kata orang, cinta itu jembatan perbedaan.”

You Might Also Like

2 comments

Let's give me a feedback!