Maaf

Wednesday, May 24, 2017


Hari ini saya mengurus berkas beasiswa studi magister saya di Jakarta, kota yang sudah lebih sering bikin saya menangis ketimbang saat saya patah hati. Saya bertemu dengan wanita yang dahulu pernah saya temui, dan saat bersalaman kami kompak berkata "maaf aku lupa nama kamu". Wanita ini sungguh menyenangkan untuk diajak bicara. Gaya bicaranya lambat tapi tegas. Ia saat ini sedang menempuh studi magister di Fakultas Ilmu Administrasi UI, pada semester yang sama dengan saya. Saat S1, angkatannya satu tahun di atas saya. Ia bertanya saya urutan keberapa untuk mengurus berkasnya, tapi saya lupa. Ia bilang "aku nomor terakhir. Jadi aku nunggu saja sampai terakhir."

Saya sungguh penasaran. Ia datang dari jam 8 pagi, dan saya baru datang jam 11 siang karena mesti mengumpulkan tugas UAS dulu ke kampus. Suaminya juga sedang sakit dan sebenarnya ia berharap bisa cepat pulang, serta sudah izin tidak masuk ke kantor hari ini. Tapi ia membiarkan, orang-orang lain yang datang lebih lambat darinya namun karena namanya di atas urutannya, untuk maju lebih dahulu. Pada saat tinggal tiga orang tersisa, saya-dia-dan seorang laki-laki, laki-laki ini baru datang meski mengantongi nomor 7 (saya 17, wanita tadi 20) dan mempersilakan kami berdua duluan. Wanita ini tetap agak bersikeras agar saya lebih dahulu namun saya pakai dalih "kasihan kamu mesti pulang ada suami sakit." Dia masih bertanya "tidak apa-apa?" Saya mengangguk. Akhirnya ia maju.

Wanita ini mengingatkan saya dengan satu sosok yang dicaci namun dicinta pihak lainnya, yang tidak pernah saya sebutkan sebelumnya posisi saya untuknya di blog maupun media sosial saya yang sudah lama vakum.
Ahok.

Menonton video Veronica Tan kemarin siang rasanya membuat saya patah hati ke sekian kali karena Jakarta. Lagi. Ternyata masih ada manusia yang memiliki hati segitu luasnya, entah menyerah atau apa, tapi yang pasti ada rasa memaafkan yang besar di sana. Memaafkan segala rupa yang sudah dilakukan untuknya, menyakiti hati, dan generalisasi yang sedemikian jahatnya. Memaafkan agar orang lain hidup lebih nyaman meski ia tidak bisa mendapatkan kemewahan itu. Memaafkan agar Indonesia (Jakarta, sebenarnya) kembali damai meski politisasi jelas ada dalam perihal ini.


Ahok dan wanita di samping saya siang ini mengingatkan sesuatu tentang partner saya. Ia juga orang pertama dalam hidup saya yang mengajarkan bahwa jika kita benar-benar menyayangi seseorang, maka kita seharusnya bisa selalu memaafkan. Memaafkan kemanusiaan adalah tugas berat, memaafkan diri sendiri apalagi. Namun belakangan saya berpikir memaafkan diri sendiri tidak seberat memaafkan pihak-pihak yang pernah menyakiti kita tanpa mereka sadari, karena jika mereka sadar, hal itu termasuk dalam agresi (perbuatan yang disengaja untuk menyakiti orang lain). Kalau tanpa disadari, berarti pelaku sedemikian egoisnya untuk tidak menimbang apakah perilakunya akan menyakiti orang lain atau tidak (dan saya juga pernah jadi pelaku ini, sedang dalam tahap memaafkan diri sendiri).

Saya bukan ahli dalam memaafkan. Baru-baru ini juga saya sakit hati karena perihal etika penelitian. Tapi rasanya maaf harus bisa saya berikan, entah saat ini atau suatu saat nanti. Karena itu yang diajarkan Tuhan dan orang-orang suci-Nya saat mereka disakiti dalam perjalanannya. Beberapa waktu lalu saya membicarakan ini dengan pelatih tari Bali saya, dan dia bilang sesuatu yang menarik. "Dari epos sendratari jaman dulu juga sudah digambarkan bahwa orang baik akan dapat cobaan bertubi-tubi yang lebih berat dari yang lainnya."

Maaf.
Hanya satu kata yang mampu mengubah banyak hal.
Namun sayangnya seringkali kita lupa,
entah untuk meminta, atau memberikan.

You Might Also Like

0 comments

Let's give me a feedback!