Pergi

Tuesday, August 29, 2017


Kapan terakhir kali saya benar-benar pergi dari suatu lingkungan?

Barangkali beberapa bulan lalu, saat saya memutuskan pergi dari kota Depok. Tahun lalu, saya pergi dari pekerjaan dan hubungan yang abusive. Pergi kadang rasanya bisa sangat menyenangkan, kadang bisa sangat menyakitkan. Tidak ada yang bisa menjamin juga apakah kebahagiaan saat pergi dapat menjamin kebahagiaan seterusnya, dan sebaliknya. Setidaknya itu yang saya pelajari dari kisah Alfred Russel Wallace dan Thomas Stamford Raffles, yang baru selesai saya baca kisahnya di buku Tim Hannigan.

***



Saya suka premis buku Raffles ini. Kata Hannigan, ia jengah dengan banyak ungkapan orang Indonesia yang ia temui selama mengajar Bahasa Inggris di Indonesia: “seandainya kita dijajah Inggris, pasti kita lebih maju dari sekarang, layaknya Malaysia atau Singapura…”

Sebagai Warga Negara Inggris yang memiliki akses kepustakaan tentang Raffles, surat-suratnya di perpustakaan Inggris, serta buku-buku biografinya, ia kemudian menghimpun informasi dan memaparkan kisah sejarah non-fiksi dari sumber-sumber tersebut. Jauh dari image saya sebelumnya tentang pendiri Kebun Raya Bogor dan residen pertama Singapura ini, ia adalah orang kejam, licik, dan ambisius, namun menyenangi ilmu pengetahuan. Dalam masa penjajahannya, ia menjarah banyak babad dan naskah dari Jawa setelah berhasil menaklukkan Keraton Yogyakarta, memaksa para pangeran angkuh yang membenci orang asing untuk mencium lututnya. Ia juga kagum dengan kemegahan Borobudhur dan Prambanan, dan melalui History of Java-nya, candi-candi peninggalan kejayaan Hindu-Buddha di tanah Jawa ini dikenal luas di negara Barat.

Aliran air panas di dekat Bandara Soa, Bajawa

Saya selalu menganggap bahwa kepergian Raffles dari Indonesia adalah buah pertukaran dengan Belanda untuk dapat menguasai Singapura, karena dianggap lebih prospektif dari Hindia Belanda. Namun menurut buku ini, dari korespondensi-korespondensi pribadi, Raffles pergi dari Jawa karena dipecat. Alasannya karena menyebabkan banyak kekacauan di Jawa; mulai dari kebijakan sewa tanahnya, hubungan dengan Keraton, pengiriman wanita-wanita dan penjahat ke Banjarmasin, dan lainnya. Pemerintahan Raffles menyebabkan defisit luar biasa sehingga sampai akhir masa hidupnya, ia berhutang pada perusahaan. Hidupnya jauh dari kata indah; saat ia sedang terpuruk luar biasa karena perseteruan dengan orang nomor dua di Jawa (ia nomor satu saat itu), istrinya meninggal. Kesehatannya memburuk akibat iklim Jawa. Ia kembali ke Inggris untuk bisa sembuh, kemudian menikah lagi dengan perempuan bernama Sophia, dan dipindahkan ke Bengkulu yang saat itu menurutnya tempat terburuk yang ia pernah lihat. Ia memiliki lima anak, empat meninggal karena sakit, dan anak terakhirnya diselamatkan dan dikirim ke Inggris. Saat akan pergi dari Bengkulu, kapalnya karam namun ia dan Sophia selamat, seluruh jarahan dan naskah yang ia dapat semuanya tenggelam. Ia kembali ke Inggris dalam kondisi terpuruk, satu anak barunya yang lahir saat ia akan pergi dari Bengkulu juga lagi-lagi meninggal.

Raffles meninggal dalam kondisi reputasi buruk, hutang, dan sakit kepala berkepanjangan yang menurut Hannigan pada masa modern ini adalah tumor otak. Ia meninggal terduduk di anak tangga paling bawah rumahnya dan ditemukan oleh Sophia. Kisahnya sedikit mengingatkan saya dengan Wallace, yang meninggal dalam kondisi miskin meski telah menemukan teori evolusi – yang belakangan kontribusinya ini baru diakui dan bersama Darwin kini mereka jadi penemu sah teori evolusi.

Petarung Caci dari daerah pegunungan

Dalam buku Raffles, Hannigan menyebut bahwa banyak daerah tak terjamah Raffles di timur Indonesia, termasuk Flores. Keganasan laut dan iklimnya belum memungkinkan untuk ditaklukkan, sehingga Flores lebih banyak mendapat pengaruh dari penjajahan Portugis. Saya jadi mengingat kembali perjalanan saya selama sebulan lalu di Flores. Perjalanan kali itu ke Flores Utara terasa lengkap. Penelitian selama dua tahun saya selesai, menonton upacara Caci, mencicipi perairannya, berbincang dengan tetua-tetua adatnya, memakan siput yang enak sekali, serta bertemu burung-burung aneh yang bisa diamati.

Kencan saya selama di Riung. Masih kelas 3 SD.

Pada pagi kepergian saya menuju Ende dari Riung, 17 Agustus 2017, saya dipeluk erat oleh seorang anak yang biasa menemani saya saat malam menjelang selama saya di Riung. Tidak ada kata terucap, hanya pelukan tersebut bertahan cukup lama. Kala itu saya pergi dengan perasaan yang membingungkan. Saya senang karena akan bertemu kembali dengan orang yang paling berarti untuk saya, namun juga sedih karena belum bisa berbuat banyak untuk tempat penghiburan saya selama sebulan tersebut, dan selama dua tahun ini.


Penghiburan dari kota-kota besar yang semakin mengsegregasikan umat-umat beragama dan perbedaan yang selama ini menjadi kekuatan kita, penghiburan dari udara sesak kota yang dihiasi klakson di kanan dan kiri, penghiburan dari ketidakpedulian, serta sikap yang paripurna.

Perasaan ganjil tersebut agaknya belum berubah sampai sekarang, dan sepertinya itu menandakan saya belum benar-benar bisa pergi dari sana.


Hati saya berlabuh di Flores, dan entah kapan bisa pergi berlayar menjauh.

You Might Also Like

0 comments

Let's give me a feedback!